Langsung ke konten utama

7 Sikap yang Harus Dimiliki Orang Tua Milenial untuk Menerapkan Pendidikan Karakter pada Generasi Alpha


Apa yang terlintas di pikiran kita ketika membaca atau mendengar Pendidikan Karakter? Orang tua generasi milenial yang mempunyai anak generasi alpha, dalam satu hari, berapa banyak menerima pertanyaan atau pernyataan tidak terduga?

Sebelum kita membahas lebih jauh mengenai sikap apa saja yang perlu kita miliki sebagai orang tua generasi milenial untuk mendidik generasi alpha, kita bahas lebih dahulu yuk apa itu Pendidikan Karakter!

Pengertian Pendidikan Karakter

Pendidikan berasal dari kata dasar “Didik” yang mendapatkan imbuhan awal Pe dan imbuhan akhir An. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata Pendidikan memiliki arti proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Sedangkan kata Karakter, menurut KBBI memiliki arti sebagai tabiat, sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain.

Sehingga Pendidikan Karakter memiliki arti proses atau usaha yang dilalui oleh seseorang untuk memiliki akhlak atau budi pekerti yang membedakannya dengan seseorang yang lain.

Pentingnya Pendidikan Karakter Generasi Alpha di Era Digital

Generasi alpha adalah generasi yang terlahir di rentang tahun 2011 hingga tahun 2025. Berbeda dengan generasi milenial yang terlahir di rentang tahun 1981 hingga tahun 1996. Generasi alpha sudah dikelilingi oleh kemajuan teknologi yang pesat. Generasi alpha yang umumnya dididik oleh generasi milenial untuk bebas menyampaikan pendapat, menentukan pilihan sendiri, membuat berpikir kritis generasi ini terkadang membuat orang di sekitarnya takjub atau heran dengan Out of the boxnya.

Orang tua generasi milenial mempunyai banyak tantangan untuk mendidik generasi alpha di tahun ini. Tahun di mana banyak hal terjadi secara nyata di sekitar anak-anak kita yang memunculkan kalimat pertanyaan dilontarkan kepada orang tua. Misalnya issue hangat yang saat ini terjadi, “Apa itu korupsi?”, “Kenapa hutan bisa terbakar?” dan pertanyaan lainnya yang umum dilontarkan generasi alpha ketika mereka mendengar atau melihat berita di gawai.

Ketika orang tua tidak membentuk karakter yang baik ke anak sejak dini, maka kerusakan-kerusakan karakter yang nantinya akan tumbuh dan tentunya merugikan masyrakat secara umum. Contoh kecilnya adalah Korupsi merajalela. Ketika Tuhan saja sudah tidak menakutkan bagi mereka, apalagi sesama manusia.

7 Sikap Orang Tua Milenial untuk Menerapkan Pendidikan Karakter

Banyak peran penting yang perlu diterapkan oleh orang tua dalam mendidik anak. Tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama dan konsisten dalam menerapkannya. Pendidikan di rumah menjadi penentu terbesar karakter anak terbentuk selain pendidikan di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitar menjadi penambah dalam membentuk karakter anak.

Jujur

Allah Subhanahu wata’ala telah memerintahkan dalam Q.S. Al-Ahzab ayat 70 yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar”.

Berkata yang benar. Berani berkata sesuai apa adanya fakta. Menjadi hal sulit di era saat ini.

Sebenarnya ini adalah salah satu rantai yang diteruskan oleh generasi sebelum-sebelumnya. Orang tua menyuruh anaknya untuk diam, tidak boleh ikut campur ketika ada hal-hal yang seharusnya tidak mereka lihat atau anak akan dimarahi ketika berkata jujur.

Sikap ini yang membuat anak lebih memilih bohong karena tidak mau terkena amarah dari orang tua. Tanpa disadari, hal ini membuat anak terbiasa untuk tidak jujur. Sikap ini lah yang sudah banyak terkikis bahkan tidak dimiliki oleh orang-orang yang seharusnya menjadi pemimpin.

2.    Syukur

Al Qur’an beberapa kali mengingatkan manusia untuk bersyukur. Salah satunya ada di Q.S Al-Baqarah ayat 152.

Seperti sikap jujur yang langka ditemui karena dibentuk oleh generasi-generasi sebelumnya. Sikap syukur juga menjadi salah satu rantai pola yang dibentuk oleh pendidikan dari generasi sebelum-sebelumnya.

Orang tua menuntut anak untuk mendapatkan kesempurnaan, tidak mengapresiasi atas hasil yang diperoleh anak. Menjadi salah satu hilangnya rasa syukur yang seharusnya diajarkan oleh orang tua dan karakter yang nantinya dimiliki oleh anak.

3.    Hormat

Umpatan atau kata kasar, arogansi, seakan menjadi hal umum yang mudah dilihat dan didengar oleh anak dari orang dewasa di sekitarnya. Menilai orang hanya dari sekilas tampilan, membuat anak mudah meniru dan menjadikan anak minim empati atau bahkan tidak lagi memiliki tata krama pada orang-orang di sekitarnya.

4.    Kasih sayang

Ketika empati sudah minim bahkan tidak ada, maka kasih sayang pada sesama pun musnah. Tidak hanya pada sesama manusia, kepada sesame makhluk hidup pun tidak akan ada rasa kasih sayang karena rasa hormat dan syukur perlahan kabur dan menghilang.

5.    Disiplin

“Aku kasihan anakku harus bla bla bla”, menjadi kalimat yang umum dilontarkan orang tua. Tanpa disadari, rasa kasihan yang dikeluarkan oleh orang tua, menjadi salah satu alasan hilangnya sikap disiplin yang seharusnya dimiliki oleh anak.

6.    Tanggung jawab

Orang tua selalu melayani anak, melindungi anak dengan alasan “Aku dulu tidak merasakan ini” menjadi salah satu sebab hilangnya sikap tanggung jawab yang seharusnya dimiliki anak. Alih-alih melindungi anak, orang tua tanpa sadar membuat anak tidak memiliki sikap untuk dapat bertanggung jawab atas apa yang dipilihnya dan dilakukannya.

7.    Takwa

Masih di Q.S Al Ahzab ayat 70, tidak hanya tentang jujur, tapi juga perintah mengenai takwa kepada Allah. Takwa secara arti yaitu taat. Taat pada perintah dan menjauhi larangan. Bukan taat hanya karena takut pada hukuman.

Dampak 7 Sikap Tidak Diterapkan dalam Pendidikan Karakter

Seperti yang disebutkan di bagian atas, Pendidikan Karakter adalah usaha untuk membentuk akhlak seseorang. Ketika orang tua generasi milenial menginginkan anak generasi alpha memiliki karakter yang baik, kuat, tentunya membutuhkan proses panjang dan konsisten untuk terus menerus diterapkan.

Sikap jujur, syukur, hormat, kasih sayang, disiplin, tanggung jawab dan takwa wajib dimiliki oleh anak generasi alpha. Sikap-sikap tersebut tentunya merupakan hasil dari proses pendidikan karakter yang dibentuk, diterapkan terus menerus oleh orang tua baik di rumah, sekolah dan lingkungan masyrakat.

Ketika orang tua mengabaikan 7 sikap tersebut dalam mendidik anak, afeksi anak tidak akan terbangun dengan baik. Anak tidak akan memiliki penghargaan pada dirinya sendiri dengan baik. Ketamakan, keegoisan, hilangnya rasa takut pada Allah Tuhan Sang Maha Pencipta yang mengakibatkan apa yang terjadi saat ini.

Tugas kita para orang tua untuk mengembalikan keindahan, kedamaian, keamanan, keimanan yang sudah luntur dengan memberikan Pendidikan Karakter yang konsisten pada generasi-generasi saat ini.


Cara Menerapkan 7 Sikap dalam Kehidupan Sehari-hari

Awali rutinitas anak selalu dengan berdoa pada Allah. Akhiri malam mereka dengan berdoa juga. Bentuk rutinitas anak generasi alpha mulai dari bangun pagi. Ajak anak untuk menghirup udara di pagi hari yang mudah diperoleh. Ajak anak menentukan kegiatan apa saja yang akan dilakukan selama satu hari. Kebaikan apa yang akan mereka tebar.

Ketika anak melakukan kesalahan, sikap apa yang akan ditunjukkan oleh orang tua, konsekuensi apa yang akan anak terima. Pastikan konsekuensi yang aman sesuai tahap usia anak. Orang tua dapat menggali terlebih dahulu sebelum menghakimi anak, menanyakan sebab anak berbuat salah. Apresiasi ketika anak berkata jujur. Peluk anak untuk memberikan rasa aman. Usap lembut kepala, bahu, punggung anak, tepuk perlahan bahu anak laki-laki  dan peluk anak Perempuan ketika anak sudah berani menyampaikan kesalahannya.

Orang tua baik Ayah ataupun Bunda harus memiliki peran seimbang dalam mendidik anak. Pastikan memiliki satu visi, satu misi, satu tujuan yang sama dalam mendidik anak. Hal ini penting untuk membentuk ketegasan dan arah yang jelas dalam tahap perkembangan anak.


Kesalahan Orang Tua Milenial yang Sering Dilakukan

Bukan hal mudah tentunya menjadi orang tua. Harus terus mau belajar, mengosongkan gelas ilmu, mengupgrade diri untuk bisa terus mendidik dan mendampingi perkembangan anak.

Anak boleh dimanja dalam hal tertentu. Jangan terlalu memanjakan anak di setiap hal kegiatan.

Berhenti menuntut kesempurnaan pada anak. Setiap anak memiliki kemampuan berbeda. Sama halnya dengan orang tua yang tidak bisa mampu di segala hal kehidupan.

Berhenti juga membandingkan setiap anak. Bahkan anak yang  terlahir dari rahim yang sama pun akan berbeda tingkah lakunya, berbeda pola pendekatannya, berbeda di segala hal. Karena rahim adalah area kuasa Allah, maka anak pun memiliki keunikan yang berbeda. Tugas orang tua adalah menjadikan keunikan yang diberi Allah tetap sesuai di jalurNya.


Peran Dukungan Orang Tua Milenial di Luar Rumah untuk Pendidikan Karakter Anak Generasi Alpha

Ikhtiar orang tua tidak hanya mendidik anak dari rumah dan berdoa pada Allah Subhanahu wata’ala. Memilih sekolah juga menjadi salah satu penentu pembentuk karakter anak.

Sekolah dengan memiliki visi melahirkan generasi berakhlak mulia dan menerapkan pendidikan dengan sikap-sikap berkarakter menjadi pilihan orang tua baik generasi milenial ataupun generasi z untuk para generasi alpha.

Saat ini ada banyak sekolah yang berlomba menawarkan menggunakan pendidikan karakter dalam kurikulum sekolah. Tetapi tidak semua sekolah karakter memulai dari para pendidiknya.

Sekolah Karakter Al-Biruni adalah salah satu sekolah dengan penerapan pendidikan karakter di kurikulum sekolah. Mulai dari para pendidik dan karyawan yang wajib mengikuti pelatihan, catering sekolah yang sehat dan terintegrasi dengan kurikulum, penyampaian hasil perkembangan anak pada orang tua melalui curricular domain, kegiatan-kegiatan parenting bagi orang tua untuk membantu menerapkan pendidikan karakter supaya selaras antara rumah dengan sekolah.

Anak tidak hanya belajar rutinitas di sekolah, tetapi juga diajarkan berhubungan antar sesama manusia dan makhluk hidup sesuai dengan 18 sikap. Orang tua juga dibekali ilmu mengenai tahap perkembangan anak sesuai usianya.


Karena sejatinya,
Pendidikan merupakan kolaborasi antara orang tua, guru dan lingkungan untuk membentuk anak menjadi utuh dan bermakna.

Jadi, hal apa yang saat ini akan direncanakan atau bahkan siap dilaksanakan untuk menerapkan Pendidikan Karakter ke anak? Sudahkah memilih sekolah yang sesuai? Apakah kita sudah yakin jika anak kita akan menjadi generasi berakhlak di tengah gonjang ganjing ketidaknyamanan negara saat ini tanpa kita dampingi dan didik tanpa Pendidikan Karakter?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menjadi Ibu Profesional Versi Diri Sendiri

Memasuki Zona ke-3 Misi ke-5 di Matrikulasi#10 bersama Ibu Profesional, membahas mengenai Ibu Profesional Kebanggaan Keluarga. Pembahasan yang disampaikan oleh Widya Iswara yaitu Mba Rusna Meswari pada Senin (30/5) membahas detail mengenai menjadi Ibu Profesional. Jujur saja, tugas ini memberikan dua efek rasa bagi saya. Pertama, menyenangkan, karena melalui tugas ini membuat saya dan suami membahas ulang dan mengevaluasi perjalanan keluarga kecil kami. Kedua, menggetarkan hati, karena tugas ini datang di saat ada pemberitaan mengenai Ananda Eril, putra dari Bapak Ridwan Kamil dan membuat saya bersama suami menerawang jauh, berpikir, sudahkah kami menjadi orang tua yang baik, sudahkah kami mewujudkan keluarga yang menyenangkan dan nyaman bagi anak kami. Sebuah tugas mengenai menjadi seorang Ibu Profesional yang menyadarkan saya di saat bersamaan bahwa, menjadi seorang Ibu adalah mencurahkan seluruh cinta dan ketulusan hati untuk anak. Banyak pertanyaan muncul di benak saya dan diungkap...

Manajemen Finansial Rumah Tangga

Manajemen finansial dalam rumah tangga? Apa yang terlintas di benak Mom mendengar kalimat tersebut? Atur uang dalam kebutuhan rumah tangga? Betul sekali! Apalagi memasuki akhir tahun, sering kita jumpai diskon atau terima bonus tahunan. Eits hati-hati ya Mom. Kalau sampai salah atur, kalap, bisa boros, bukan nambah tabungan malah bisa menambah pipa pengeluaran. Sebelum kita menggunakan uang seperti menggunakan uang bonus untuk belanja keinginan, sebaiknya kita belajar manajemen finansial dalam rumah tangga dulu ya Mom. Kita susun prioritas apa saja yang menjadi kebutuhan utama sampai kebutuhan pelengkap. Lebih jelasnya kita simak langsung yuk Mom! Pengertian Manajemen Finansial dalam Rumah Tangga Manajemen menurut KBBI adalah penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Sedangkan finansial menurut KBBI adalah mengenai (urusan) keuangan. Jadi dapat disimpulkan, manajemen finansial adalah penggunaan keuangan secara efektif supaya dapat memenuhi sasaran kebutuhan. Sedangk...

Ragam Kuliner di Tegal #1

Mengenal Kota Tegal Tahukah kalian tentang Kota Tegal? Kota Tegal yang berjulukan Kota Bahari tapi banyak yang lebih kenal dengan Kota Warteg, dikarenakan sebagian besar penduduk asli sini, melakukan urbanisasi ke kota besar seperti Jakarta, Bekasi, Bogor, dan sekitarnya. Mereka berjualan nasi di warung bernama Warung Tegal atau sering kita kenal sebagai Warteg. Jadi, orang awam mengenal Tegal dengan Kota Warteg daripada Kota Baharinya. Atau lebih terkenal dengan "Ngapak". Bukan tanpa sebab, karena memang dialek di sini dikenal dengan bahasa yang menurut orang-orang adalah pelafalan yang cukup kental. Ciri khas ngapaknya ini menjadikan keunikan sendiri untuk Tegal yang ada di Provinsi Jawa Tengah yang umumnya memiliki logat lemah lembut dengan bahasa Jawanya. Padahal Tegal secara geografis, berbatasan dengan Kabupaten Brebes dan Kabupaten Pemalang yang mana Pemalang menggunakan bahasa Jawa. Tegal sendiri, memiliki dua geografis alam, yaitu berbatasan dengan laut dan juga gunu...